SEMINAR CRITICAL THINKING KEMERDEKAAN ATAS NARASI- NARASI BESAR KAPITALISME MELALUI PARADIGMA KRITIS- POSMODERENIS

Pascasarjana Fakultas Bisnis dan Ekonomika kembali mengadakan sebuah seminar dengan Cynthia Ciptadi sebagai ketua pada hari Jumat, 10 Maret 2017. Seminar yang diadakan tersebut bertemakan “Critical Thinking” dan mengambil judul “Kemerdekaan atas Narasi – Narasi Besar Kapitalisme Melalui Paradigma Kritis – Posmodernis“. Seminar tersebut dibawakan oleh seorang pembicara yang adalah dosen, trainer, penulis jurnal dan buku, serta direktur dari Yayasan Rumah Peneleh, yaitu Dr. Ari Kamayanti, S.E., M.M., MSA, Ak., CA. Beliau memberikan wawasan baru sekaligus membenarkan paradigma milik peserta selama ini. Dr Ari melemparkan sebuah pernyataan tentang ketidakstabilan teks, simbol, dan narasi yang mengajak para peserta berpikir ulang dan mengevaluasi paradigma – paradigma yang ada dalam dunia ini, sesuatu yang selama ini hanya terdengar dalam jurnal dan karya tulis.

Banyak tokoh yang disebutkan pada seminar ini, yaitu filsuf – filsuf yang memiliki pengaruh dalam pergerakan posmodernis dunia seperti Jacques Derrida, Michel Foucault, Jean-François Lyotard, dan Jean Baudrillard. Pemikiran – pemikiran besar mereka juga dibagikan dalam seminar ini, seperti “Derrida’s deconstruction” yang melihat secara kritis hubungan antara teks dengan makna serta “Baudrillard’s Simulacra” yang ingin menguji hubungan antara realitas, simbol, dan masyarakat. Pemikiran tersebut menemukan bahwa ada salinan (copies) yang menggambarkan sesuatu yang palsu, sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya, atau sesuatu yang sudah tidak memiliki keasliannya lagi, sambil melihat bagaimana paradigma para filsuf tersebut dalam mengkritisi kapitalisme.

Kapitalisme dikupas cukup mendalam di seminar ini. Dalam seminar ini dijelaskan bahwa kekuatan kapitalis akan menciptakan sebuah grand narratives (narasi – narasi besar) yang memengaruhi sejarah dan ilmu pengetahuan. Narasi – narasi besar tersebut mengarahkan seolah – olah terdapat sesuatu yang nyata, meskipun berdasarkan paradigma posmodernis sebenarnya tidak ada yang nyata, seperti peristiwa G-30S/PKI, Enron, WorldCom, Freeport McMoran, maupun konsep – konsep dalam ekonomi seperti Total Quality Management (TQM). Fenomena tersebut memunculkan apa yang disebut dengan “krisis narasi”, sehingga perlu adanya pemahaman dan pengungkapan dari permainan kata, simbol, serta narasi agar kita dapat membongkar kebenaran yang tersembunyi. Salah satu cara untuk mengatasi “krisis narasi” tersebut adalah dengan memunculkan narasi – narasi lain untuk menghancurkan kebohongan dari narasi – narasi besar. Selain itu, pembicara menyimpulkan akibat dari paradigma posmodernis tersebut adalah mereka tidak akan pernah memiliki sebuah kesimpulan karena posmodernis cenderung memajemukkan kebenaran. Sebelum pembicara menutup sesi materi dan melanjutkan ke sesi tanya jawab, beliau membawakan sebuah puisi yang disampaikan dengan alunan lagu dan “menantang” para peserta untuk dapat membuat narasi – narasi yang memiliki manfaat bagi sesama. Pembicara berharap agar para peserta, terutama mahasiswa yang akan membuat karya tulis, dapat memberikan narasi – narasi yang kritis dan dapat memberikan manfaat bagi sesama.

Seorang peserta seminar yang bernama Adi dari Magister Akuntansi memberi tanggapan “Seminar ini sangat menarik karena topik yang diangkat memang sedang booming saat ini. Pembicara sangat menguasai materi dan penyampaian materi mudah diterima oleh setiap orang yang ada di ruangan. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya antusiasme peserta yang bertanya dalam sesi tanya jawab”. Seminar ini diakhiri dengan sesi pemberian kenang – kenangan dari Kaprodi Magister Akuntansi Bapak Bonnie Soeherman kepada pembicara dan sesi foto bersama dengan peserta seminar.