BV Yogyakarta “Digdaya Kalian Budaya Panji”

Leadership Club kembali mengadakan Business Visit yang kali ini dilakukan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini diadakan untuk memberikan pembelajaran bagi para mahasiswa Magister Manajemen dan Magister Akuntansi bahwa kebudayaan Indonesia dapat menjadi modal berharga bagi kita semua untuk digunakan dalam bisnis. Berangkat dari Surabaya dengan menggunakan bus pada malam hari tanggal 15 Desember 2018, rombongan tiba di destinasi pertama yaitu Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Wanurejo pada tanggal 16 Desember 2018 pagi. Terletak di antara kaki Pegunungan Menoreh dan diapit oleh Sungai Progo dan Sungai Sileng, Balkondes Wanurejo menyajikan pemandangan alam pedesaan yang menakjubkan. Dari Balkondes Wanurejo kita dapat belajar bahwa pemerintah sangat peduli terhadap pengembangan ekonomi di wilayah ini dan dengan serius mempersiapkan desa-desa di sekitar Borobudur untuk mengembangkan potensi wisatanya melalui BUMN yang ditunjuk sebagai pembina mereka. Balkondes Wanurejo sendiri dibina oleh Bank BNI46.

Petualangan kami di Balkondes Wanurejo dimulai dengan tur mengelilingi beberapa UMKM di wilayah Desa Wanurejo menggunakan andong. Dimulai dari UMKM kerajinan kayu & kulit, di sana ditampilkan berbagai macam kerajinan tangan yang menjunjung tinggi budaya khususnya Budaya Jawa. Selanjutnya masih menggunakan andong, kami menuju ke pusat kerajinan batik. Tak hanya mengunjungi, kami juga belajar untuk membatik di selembar kain dengan pola yang telah disediakan. Selesai dari pusat kerajinan batik, kami menuju ke  UMKM pengolahan kopi luwak. Kopi yang mereka sajikan adalah jenis Robusta dan Arabica yang murni berasal dari kotoran hewan Luwak.


Selanjutnya perjalanan dilanjutkan untuk mengunjungi sebuah peninggalan sejarah dari Dinasti Syailendra yang pernah masuk menjadi salah satu keajaiban dunia, yaitu Candi Borobudur. Sesampainya di sana, kami disambut oleh staf dari PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko untuk terlebih dahulu menyaksikan dokumentasi sejarah Candi Borobudur di Ruang Audio Visual dan dijelaskan secara detail tentang sejarah Candi Borobudur sejak peristiwa penemuan lokasi candi tersebut. Selesai dengan penjelasan, kami mulai menaiki Candi Borobudur untuk dapat menikmati keindahan relief yang ada di sana. Malam harinya acara dilanjutkan dengan acara kebersamaan untuk dapat mengakrabkan para peserta dan panitia mengingat peserta berasal dari berbagai angkatan.  

Pada pagi hari tanggal 17 Desember 2018, rombongan LC bertolak dari Magelang menuju wilayah Kotagede, Kota Yogyakarta untuk mengunjungi Museum Chocolate Monggo. Setibanya di sana, kami disambut oleh Mbak Elisabeth, staf Chocolate Monggo yang memandu kami untuk memahami perusahaan tersebut. Mbak El menjelaskan bagaimana cara mencetak coklat kemudian setiap peserta diberikan kesempatan untuk mencetak sendiri coklat mereka. Setelah kegiatan mencetak coklat selesai Mbak El mengajak kami untuk berkeliling Museum Chocolate Monggo disertai dengan cerita tentang bagaimana Chocolate Monggo didirikan dan bagaimana budaya Jawa berkembang menjadi budaya organisasi perusahaan tersebut. Tak hanya itu, beliau juga menjelaskan banyak hal mulai dari sejarah dikonsumsinya cokelat di dunia, serta komposisi coklat yang baik untuk dikonsumsi. Museum tersebut dilengkapi beberapa alat produksi cokelat dan juga contoh buahnya mulai dari dipetik hingga difermentasi dan layak olah. Etalase mengenai komposisi coklat juga disediakan dengan lengkap. Peserta juga bisa melihat proses pembuatan coklat secara singkat. Memang tidak keseluruhan proses produksi bisa dilihat karena saat ini pabrik Coklat Monggo masih berada di dua tempat sehingga proses produksi secara lengkap belum bisa disaksikan. Namun ke depannya perusahaan ini akan menggabungkan lokasi produksi menjadi satu sehingga penggunjung kelak bisa melihat proses produksi secara utuh. Setelah puas berpetualang di Chocolate Monggo, rombongan menuju Gumuk Pasir Parangkusumo dan Pantai Parangtritis untuk menikmati keindahan alam di sana.

Tanggal 18 Desember 2018 rombongan berkesempatan untuk mengunjungi dua perusahaan besar. Pertama adalah PT Madubaru, sebuah pabrik gula terbesar dan satu-satunya di Yogyakarta yang menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan gula di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan. Perusahaan ini tidak hanya memproduksi gula namun juga menghasilkan alkohol dan biogas yang semuanya berbahan dasar tebu. Awal kunjungan disambut oleh salah satu karyawan dari PT Madubaru serta dijelaskan secara singkat melalui audio visual kegiatan produksi di perusahaan tersebut. Peserta juga diberikan banyak kesempatan untuk melakukan sesi tanya jawab sehingga hal tersebut membuka luas wawasan. Kegiatan tanya jawab berlangsung dengan baik dimana peserta sangat antusias untuk bertanya dan menggali ilmu. Seusai sesi tanya jawab peserta diajak untuk mengelilingi fasilitas produksi menggunakan serangkaian kereta kuno. Karena saat kunjungan jatuh pada bulan Desember maka rombongan tidak bisa melihat proses produksi gula, hanya bisa melihat proses produksi alkohol, mesin pabrik gula serta gudang gula. Produksi gula hanya dilakukan pada bulan April-Oktober saja, mengingat curah hujan yang banyak di akhir tahun akan mempengaruhi kualitas produksi gula.

Selesai berkunjung di PT. Madubaru, rombongan bergerak menuju ke Yogyatourium sebuah gerai baru yang didirikan oleh PT. Aseli Dagadu Djokdja atau yang lebih dikenal dengan Dagadu. Dagadu merupakan sebuah bisnis kreatif yang menuangkan kreativitasnya dalam berbagai macam cindera mata dengan menjunjung tinggi budaya Indonesia terutama budaya Jawa. Di sana kami disambut oleh jajaran manajemen Dagadu, mulai dari Mbak Ratna selaku Customer Relationship Officer, Mas Anton selaku Brand Manager, dan Cak Marsudi selaku Creative Manager. Secara bergantian mereka mempresentasikan bagaimana Dagadu terbentuk, proses bisnis, dan bagaimana budaya Jawa digunakan dalam memaknai segala situasi yang terjadi di masyarakat kita untuk dituangkan ke dalam hasil karya yang kreatif. Pelajaran berharga yang dapat kami peroleh dari Dagadu adalah kita bebas untuk dapat berkarya melalui desain, namun ada hal lain yang perlu kita miliki, yaitu wawasan tentang pemasaran, karena desain sebagus apapun jika tidak ada pasarnya maka tidak maksimal penjualannya.

Pada tanggal 19 Desember 2018, kami berkesempatan mengunjungi, melihat dan mendengarkan penjelasan tentang proses produksi dari Bakpia Pathuk 25, sebuah perusahaan yang memproduksi kudapan legendaris di Yogyakarta, yaitu bakpia. Bakpia sebenarnya merupakan kudapan asli dari Cina dengan nama Tou Luk Pia yang artinya pia kacang hijau. Sejak tahun 1948, banyak berdiri produsen bakpia di Kampung Pathuk, Yogyakarta yang waktu itu bakpia masib diperdagangkan dengan kemasan besek dan tanpa merk. Tahun 1980, bakpia pathuk sudah mulai tampil dengan kemasan baru. Merk dagang disesuaikan dengan nomor rumah. Saat ini usaha Bakpia 25 dilanjutkan oleh generasi penerus, yaitu Bapak Arlen Sanjaya. Bakpia Pathuk 25 sendiri masih menjaga tradisi untuk mengoven menggunakan arang disertai dengan anyaman bambu, meskipun pada beberapa proses produksi sudah menggunakan mesin modern.

Setelah puas melihat proses produksi dan berbelanja di Bakpia Pathuk 25, perjalanan dilanjutkan ke kaki Gunung Merapi, tepatnya di daerah Kaliurang, Sleman untuk berkunjung ke sebuah museum seni dan budaya bernama Museum Ullen Sentalu. Musem ini didirikan dan dikelola oleh swasta, yaitu dari keluarga Bapak Hariyono yang berasal dari Yogyakarta. Keluarga tersebut masih merupakan kerabat Keraton Yogyakarta. Seluruh koleksi artefak yang ada dalam museum ini merupakan hibah dari Keraton Yogyakarta. Museum ini sendiri menceritakan sejarah budaya Jawa di tanah Yogyakarta dan sekitarnya terutama Kerajaan Mataram Islam yang terpecah menjadi 4, yaitu Kesultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Kerajaan Mangkunegaran, dan Kerajaan Pakualaman. Foto relief tempat kami berfoto bersama adalah replika dari relief yang ada di Candi Borobudur. Relief ini dipasang dengan posisi miring karena merupakan bentuk sindiran kepada generasi muda bangsa ini yang sudah melupakan sejarah dan budaya bangsanya sendiri. Dengan demikian berakhirlah rangkain acara Business Visit kali ini. Banyak sekali pengalaman dan pelajaran berharga yang kami dapatkan selama mengikuti acara ini, terutam tentang bagaimana budaya Indonesia digunakan sebagai modal yang bagus untuk dapat menjalankan bisnis. Sampai jumpa di acara Business Visit selanjutnya.