CRACKING PARADIGMS THROUGH DISRUPTIVE INNOVATION “Creating and Building Business Advantage”

Creating-and-Building-Business-Advantage

Foto bersama pembicara dan peserta seminar

Seiring dengan berkembangnya teknologi, semakin banyak hal di sekitar kita yang beralih pada sistem online. Mulai dari proses jual-beli hingga transaksi pembayaran. Cara-cara konvensional kini telah terdisrupsi oleh teknologi. Disrupsi saat ini menjadi sebuah fenomena yang terjadi dalam dunia perekonomian.

Berdasarkan fenomena tersebut, Leadership Club 10th Generation dari Pascasarjana FBE UBAYA mempersembahkan sebuah seminar yang berjudul CRACKING PARADIGMS THROUGH DISRUPTIVE INNOVATION “Creating and Building Business Advantage”. Seminar ini diselenggarakan pada hari Jumat, 8 Juni 2018, bertempat di Auditorium Pascasarjana, Gedung Pascasarjana FBE lantai 3, kampus UBAYA Tenggilis. Seminar yang mengangkat fenomena disrupsi sebagai tema utama ini mengundang 2 orang pembicara yang ahli di bidangnya, yaitu Dr. Sandy Wahyudi (DSW) dan Dr. Deddy Marciano. Kedua orang ini membawakan materi terkait disrupsi dari 2 sudut pandang yang berbeda pula. Dr. Sandy Wahyudi membahas disrupsi dari segi dunia pemasaran (marketing), sedangkan Dr. Deddy Marciano membahasnya dari segi keuangan (financial). Seminar ini cukup menarik peserta yang hadir hingga hampir memenuhi seluruh sudut ruangan. Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari mahasiswa aktif pascasarjana FBE UBAYA, tetapi banyak juga peserta yang berasal dari luar. Beberapa di antaranya merupakan praktisi, trainer, dan konsultan di bidang bisnis.

Marketing disruption dapat dilihat dari persaingan bisnis yang semakin beralih ke bisnis online. Pak Sandy menunjukkan beberapa foto kondisi toko konvensional di daerah Glodok, Jakarta. Dari foto tersebut dapat dilihat toko konvensional mengalami kondisi sepi pengunjung. Tidak banyak konsumen yang datang berkunjung ke toko-toko tersebut karena mereka saat ini lebih senang duduk dan melakukan transaksi pembelian cukup melalui smartphone. Pemilik toko konvensional mau tidak mau harus memikirkan cara baru agar bisnisnya tetap berjalan. Cara inilah yang disebut dengan disruptive innovation. Pak Sandy menegaskan “Disrupsi adalah tentang bagaimana kita bisa mengalahkan diri kita sendiri. Bagaimana pola pikir kita menghancurkan apa yang telah kita buat sebelumnya. Perusahaan harus mendisrupsi dirinya untuk berkembang lebih baik lagi.”

Tidak hanya dunia bisnis yang mengalami disrupsi. Dunia keuangan juga mengalami hal yang sama. Tanpa disadari, saat ini sudah banyak berkembang alat pembayaran yang tidak lagi menggunakan uang tunai. Bila ingin membayar barang belanjaan, cukup menggunakan kartu atau bahkan smartphone saja. Hal ini merupakan wujud dari disrupsi di bidang finansial. Cara-cara pembayaran konvensional mulai terdisrupsi oleh berkembanganya Financial Technology (Fintech). “Yang disebut sebagai Fintech adalah penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau modal bisnis baru,” ujar Pak Deddy. Beliau juga menyatakan bahwa kebutuhan dasar generasi milenial saat ini tidak lagi uang tunai, melainkan online/internet banking.

Fintech berbicara soal sistem pembayaran, pendukung pasar dalam transaksi, juga manajemen investasi dan risiko. Nantinya lembaga keuangan (kecuali bank negara) tidaklah penting lagi, melainkan berfokus pada keinginan customer. Pak Deddy menyatakan, “Ke depannya, Bank bukan satu-satunya penerbit alat pembayaran. Akan muncul pemain-pemain baru yang unregulated. Contohnya adalah Gojek, yang menciptakan Gopay sebagai alat pembayaran.” Bank Indonesia sangat mempedulikan Fintech, karena berkaitan dengan perlindungan konsumen, keamanan sistem transaksi dan transfer, juga keamanan data. “Fintech bisa jadi lawan, bisa jadi kawan. Tergantung posisi kita,” sahut Pak Deddy.

Kedua pembicara seminar ini membawakan materi dengan sangat menarik. Antusiasme peserta seminar juga tidak kalah dengan pembicaranya. Beberapa peserta sangat antusias dalam mengajukan pertanyaan hingga sesi tanya jawab yang diberikan terasa kurang. Hingga jarum jam menunjukkan hampir pukul 10 malam, animo antusias ini masih terasa dalam ruang Auditorium Pascasarjana FBE UBAYA.