Greenovation Entrepreneurship

Senin, 26 November, Leadership Club 11th Generation mengadakan sebuah talkshow yang bertajuk Greenovation Entrepreneurship di Perpustakaan Lt. 5, Kampus Ubaya Tenggilis. Talkshow yang mampu menarik minat para peserta dari berbagai kalangan ini, baik dari civitas academica maupun peserta umum dengan total peserta 52 orang, berhasil membuka mata para peserta mengenai bagaimana berwirausaha tidak hanya berfokus pada orientasi keuntungan semata namun juga harus memikirkan tentang dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat dari usaha yang dikerjakan.

Narasumber kali ini, sesuai dengan judul dari talkshow adalah para pengusaha yang memiliki pola pikir “greenovation” dalam menjalankan usahanya, dapat kita lihat dalam diri Bapak Slamet sebagai pendiri Kampung Organik Brenjonk pada tahun 2007 dan Ibu Christine Halim sebagai owner serta direktur Langgeng Jaya Group dari tahun 2006 hingga sekarang sekaligus menjabat sebagai Ketua Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia atau disingkat ADUPI sejak tahun 2016 hingga tahun 2022.

Talkshow dibuka dengan sambutan dari Presiden Leardship Club 11, Yeremia Sugianto, dilanjutkan dengan pengenalan narasumber pertama dalam talkshow ini melalui tayangan video singkat yang menjelaskan tentang usaha yang dirintis oleh bapak Slamet selaku pendiri Kampung Organik Brenjonk. Brenjonk didirikan oleh bapak Slamet pada tahun 2007 di desa Penanggungan, Trawas, Mojokerto. Brenjonk berasal dari kata Sumber Rejo yang berarti sumber air, memberikan manfaat. Brenjonk didirikan dari 3 isu, yaitu isu kesehatan yang sangat penting tentang keamanan pangan karena banyak hasil pangan yang non organik dengan menggunakan bahan kimia sintesis, kemudian isu ekonomi, dengan adanya peningkatan pendapatan dan pengurangan biaya termasuk masalah kesehatan karena mengkonsumsi makanan sehat atau organik dan juga isu lingkungan hidup seperti pemanasan global, perubahan iklim, mikrobiologi yang rusak karena petani tidak menggunakan bahan organik, sehingga Brenjonk muncul untuk memberikan kontribusi yang baik bagi lingkungan, yaitu proses pembelajaran kepada para warga yang ada di sekitarnya, terutama bagi ibu-ibu rumah tangga untuk melakukan budidaya aneka jenis sayuran secara organik tanpa menggunakan bahan kimia dalam bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan kecil yang tidak terpakai.

Ibu-ibu diajak karena menurut Pak Slamet mereka ada orang yang paling telaten di dunia. Ibu selalu berhubungan dengan makanan, kemudian para ibu di desa jarang melakukan peran penting selain mengurus kegiatan rumah tangga, sehingga Brenjonk mengajak para ibu-ibu, sebagai langkah pemberdayaan perempuan untuk berpartisipasi dalam melakukan hal strategis dalam pertanian, mulai dari perencanaan, implementasi, pemantauan, pemasaran hingga masalah keuangan dalam proses pemanfaatan pekarang rumah. Para ibu tersebut juga telah memiliki sertifikasi organik yang berstandar nasional dan menjadi satu-satunya kelompok di Kabupaten Mojokerto yang mempunyai sertifikasi organik dan produknya sudah tersebar di berbagai supermarket di Surabaya.

Brenjonk juga memiliki Eco Wisata Edukasi Kampung Organik Brenjonk dengan program bernama Eco Plus atau Eco Edukasi yang memiliki kegiatan organik mulai dari pembelajaran dikelas, kemudian ada praktek lapangan tentang pembibitan, hingga teknik budidaya dan pasca panen. Ada juga hiburan sebanyak 9 jenis seperti seduh kopi, tangkap belut, susur sungai, terapi pijat air, dan banyak juga lainnya. Harapan ke depan dari Brenjonk adalah adanya kemandirian dalam komunitas di desa melalui usaha-usaha yang berkelanjutan dengan prinsip kewirausahaan sosial, sehingga mendapatkan peningkatan penghasilan serta kualitas hidup.

Talkshow kemudian berlanjut dengan pengenalan narasumber kedua, yaitu Ibu Christine Halim sebagai owner serta direktur Langgeng Jaya Group dari tahun 2006 hingga sekarang sekaligus menjabat sebagai Ketua Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia atau disingkat ADUPI sejak tahun 2016 hingga tahun 2022. Daur ulang sampah plastik yang dicetuskan oleh ibu Christine Halim juga dapat menjadi contoh pengusaha yang memiliki pola pikir “greenovation” selain budidaya sayuran organik milik pak Slamet. Ibu Christine Halim dalam memulai usahanya berangkat dari tidak adanya pilihan dalam pekerjaan, sehingga berusaha menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, hingga muncul usaha daur ulang ini. Usaha diawali dengan hanya sekedar mengumpulkan sampah kemudian dijual kembali yang akhirnya dengan ilmu yang didapatnya dari Cina, usaha tersebut berubah menjadi usaha pengolahan sampah plastik. Botol air minum yang digunakan harus juga dicari solusinya supaya sampah hasil pemakaiannya tidak mencemarkan lingkungan, solusi yang memiliki nilai ekonomis yang baik, sehingga terbentuklah usaha daur ulang sampah plastik milik ibu Christine Halim ini. Hasil produksi daur ulang plastik dari Langgeng Jaya Group di ekspor ke luar Indonesia sehingga dapat memberikan kontribusi atau mendatangkan devisa bagi Indonesia.

Kedua narasumber yang dihadirkan pada acara talkshow ini cukup membuat mata para peserta bahwa di dalam memulai suatu usaha atau berwirausaha pasti akan mengalami jatuh bangun, atau bahkan mengalami kegagalan, Pak Slamet memberikan nasihatnya bahwa tidak ada suatu kegagalan tetapi kegagalan tersebut harus dianggap sebagai tantangan, kegagalan yang dianggap sebagai masalah akan berbeda ketika kita menganggap kegagalan tersebut sebagai tantangan, justru harus memacu kita. Menurutnya, rezeki sudah ada yang mengatur, uang adalah konsekuensi dari kerja yang baik, dan kalau dilakukan secara serius maka uang akan datang. Begitu pula dengan Ibu Christine Halim, dengan kebaikan maka akan ada bonus kemakmuran atau ekonomi, dan jangan takut untuk memulai, think out of the box, jangan melakukan sesuatu yang monoton, harus mencari sesuatu ide untuk memulai, dan ketika mengalami kegagalan jangan berhenti. Mari kita lakukan sesuatu walaupun kecil, menanam 1 pohon saja sudah sangat berarti bagi kehidupan kita dan harus selalu semangat dalam memulai sesuatu, jangan berpikir tidak bisa, karena yang membuat diri kita bisa adalah diri kita sendiri bukan orang lain, pesan dari pak Slamet dan ibu Christine Halim.

Semoga apa yang telah kita pelajari dari talkshow ini membuka pikiran kita bahwa usaha tidak selamanya mencari profit ataupun untuk kepentingan diri sendiri, namun juga harus memberikan manfaat bagi orang lain terutama terhadap lingkungan. Semoga kelak kita enjadi pengusaha yang memiliki pola pikir “greenovation”.