Seminar Competitive Strategy, Governance, and Control Systems: Impact on Performance

Share on facebook
Facebook
Share on linkedin
LinkedIn
Share on email
Email

Pada hari Senin, 14 Oktober 2019, Universitas Surabaya berkesempatan dalam mengundang Professor Johnny Jeremias untuk mengisi seminar baik di Strata 1 dan Pascasarjana. Professor Johnny Jermias berkelahiran asal Manado, sempat menempuh pendidikan di Indonesia dan kemudian melanjutkan pendidikan beserta karirnya di Kanada. Beliau kini menjabat sebagai pengajar di Simon Frasser University, setelah sebelumnya menjalani karir sebagai auditor, dosen, hingga menjadi konsultan manajemen. Serangkaian perjalanan karir beliau telah menunjukkan bahwa Prof Johnny memiliki banyak pengalaman, terutama dalam hal kinerja perusahaan. Kali ini, beliau menyampaikan bagaimana strategi kompetitif yang diambil perusahaan, beserta dengan struktur kepemimpinan dan kontrol sistemnya, dapat berpengaruh pada kinerja perusahaan. Professor Johnny mengawali sesinya dengan penjelasan bagaimana umumnya konflik terjadi di tingkat manajer dan pemiliknya, di mana pemilik atau owner sering diperlakukan sebagai outsider. Konflik dapat terjadi karena adanya aliran informasi yang tidak seimbang. Informasi sendiri juga dapat membawa perusahaan ke sebuah strategi kompetitif. Mengapa perusahaan ingin memperoleh keunggulan dari informasi? Terdapat 3 pilar yang menguatkan fungsi informasi masing-masing, yaitu:

  1. Perceived opportunity: berbentuk adanya regulasi atau kebijakan yang tidak jelas, kontrol internal yang tidak berinovasi, atau terdapat kesempatan untuk meningkatkan income secara signifikan. Jika memanfaatkan kesempatan-kesempatan tersebut, para manajer dapat membentuk perusahaan yang berinovasi dan bertumbuh pesat.
  2. Perceived pressure: salah satu contoh dari adanya perceived pressure adalah menargetkan omset yang terlalu tinggi namun malah berujung dengan tidak maksimalnya kinerja perusahaan, karena mindset para manajer yang hanya menarget untuk mencapai minimum requirements.
  3. Rationalization: adalah bagaimana perilaku seseorang yang berusaha untuk merasionalkan pilihan yang ada, walaupun sebenarnya hal tersebut adalah salah. Hal ini berlaku pada sistem majority rule, di mana jika 90% orang memilih melaksanakan plan A dan 10% sisanya memilih plan B karena lebih dapat diaplikasikan. Namun karena sistem majority rule, maka plan A yang dijalankan dengan persepsi untuk merasionalkan plan A tersebut.

Tiga pilar di atas semakin menjelaskan bahwa banyak sekali kesempatan bagi manajer untuk terlibat dan membenahi manajemen perusahaan, dengan memperoleh informasi. Beliau juga memperkuat argumennya dengan memberi contoh-contoh skandal dalam dunia akuntansi, seperti pada BRE-X. Kasus yang terjadi pada BRE-X diawali dengan adanya pemberitaan oleh CEO BRE-X, bahwa mereka menemukan adanya tambang emas di Busang, Kalimantan. Berita tersebut disambut baik oleh penghuni pasar modal, sehingga saham BRE-X melejit drastis karena berasumsi perusahaan tersebut berprospek baik ke depannya. Namun hingga 6 bulan kemudian, barulah masyarakat sadar bahwa berita tersebut adalah hoax. Skandal tersebut adalah salah satu contoh dari informasi beredar tidak simetris. Informasi dapat membawa perusahaan memperoleh keuntungan, dan dapat juga merugikan perusahaan. Namun, mendapatkan sebuah advantage tidak sebatas pada perolehan informasi saja, melainkan dengan memanfaatkan agency relations. Agency relations menggambarkan bagaimana terjalinnya hubungan ke para manajer sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Professor Johnny menjelaskan bahwa untuk meminimalisir permasalahan yang timbul karena agency relations adalah dengan monitoring dan insentif. Namun insentif dinilai dapat meningkatkan kinerja secara signifikan karena persepsi bahwa kinerja yang naik akan membawa benefit jauh lebih banyak juga. Secara umum, insentif ampuh diterapkan untuk manajer.

Secara umum, strategi kompetitif terbagi menjadi 2 tipe, yaitu inovatif dan efisiensi. Strategi inovatif berkarakteristik sistem yang demokratis, adanya empowerment, dan kebebasan pada manajer. Sedangkan strategi efisiensi berkarakteristik otokratis, adanya kontrol yang tinggi, dan lebih terstruktur dengan banyaknya prosedur. Beliau menjelaskan kategori strategi kompetitif yang tepat digunakan, jika menggunakan strategi inovatif, maka struktur governance yang baik diterapkan adalah less monitoring. Dengan strategi inovatif dan less monitoring, maka jenis produk yang dihasilkan memungkinkan menjadi unik dari produk sejenis, menjadi perusahaan first mover, dapat memonopoli pasar, dan memberi harga premium. Jika menggunakan strategi efisiensi, maka bentuk struktur governance yang tepat adalah otokratis. Meskipun begitu, beliau menyampaikan, bahwa tidak ada struktur governance yang paling tepat. Bagian terpenting adalah bagaimana menggabungkan strategi, struktur governance, dan kompensasi insentifnya.

fig. 1

Bagaimana mengetahui apakah perusahaan tersebut menggunakan strategi inovatif atau efisiensi? Hal tersebut dapat dilihat dari berapa yang perusahaan keluarkan untuk divisi research and development (R&D). Jika R&D memiliki porsi anggaran yang besar, dapat disimpulkan perusahaan tersebut menggunakan strategi inovatif, di mana mengunggulkan produk yang berbeda di target pasar. Akan tetapi, strategi inovatif dan efisiensi dapat diterapkan bersamaan, seperti pada perusahaan Samsung. Perusahaan tersebut terus mengeluarkan inovasi terbaru pada produknya, disertai dengan 70% hingga 90% anggaran dituangkan ke divisi R&D. Tapi new product keluaran Samsung akan pada akhirnya menjadi produk komoditas. Ternyata, life cycle produk yang singkat tersebut adalah incaran Samsung, di mana jika produk baru telah menjadi produk komoditas, maka mereka akan mengunggulkan penjualan volumenya dan menipiskan marginnya sebagai strategi efisiensi yang diterapkan. Walaupun Samsung adalah contoh sukses penggabungan kedua strategi kompetitif tersebut, professor Johnny tetap menyarankan untuk memisahkan penerapan kedua strategi itu di suatu perusahaan, dikhawatirkan akan menjadi kacau.

fig. 2

Seminar berlanjut dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan terkait materi yang disampaikan Professor Johnny Jeremias, yang menanyakan apakah dapat menerapkan inovasi dari bagaimana perusahaan beroperasi agar dapat mencapai efisiensi. Professor Johnny menjawab hal itu adalah mungkin, seperti contohnya Toyota. Toyota dikenal sebagai perusahaan yang efisien, terutama dengan Just-in-Time. Tetapi bentuk inovatif yang dihasilkan perusahaan tersebut adalah seru produk Lexus. Pertanyaan lain juga membahas bagaimana penerapan riil dari stock base option yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Beliau menjelaskan, para manajer harus bertahan di perusahaan dalam jangka waktu tertentu agar dapat menikmati dividen dari saham perusahaan, serta menikmati keuntungan yang diperoleh karena selisih harga yang tertera pada opsi saham dibandingkan harga riil time di pasar modal. Professor Johnny Jeremias menjawab antusiasme mahasiswa dengan jawaban yang memuaskan dan logis.

Akhirnya, sesi seminar berakhir dengan pemberian sertifikat, souvenir, dan blankon oleh KPS Magister Akuntansi kepada Professor Johnny Jeremias. Diharapkan dengan diadakannya seminar ini, dapat semakin memperkuat pemahaman mahasiswa terkait strategi apa yang paling tepat diterapkan perusahaan, serta bagaimana agar menciptakan kontrol agar kinerja perusahaan terjaga, maupun menjadi semakin meningkat.

More Articles

Close Menu